jump to navigation

Ternyata Seorang Mentri Bisa Galau Juga,,, Ketika Kisah Kasihnya Tak Sampai. Agustus 1, 2012

Posted by nichoz in : Otomotif 2 , trackback

Berikut ini adalah ke galauan seorang Dahlan Iskan Ketika Dirinya di tunjuk Sebagai Meneg Bumn. Berbagai cara beliau lakukan agar tidak terpilih menjadi meneg BUMN. Termasuk (bahasa kasarnya) melarikan diri ke luar negri sebelum pelantikan berlangsung. Tapi apa boleh buat,, takdir berkata lain. Beliau tetap terpilih menjadi Mentri BUMN. Bukannya senang terpilih menjadi mentri, Beliau malah menangis.

Mungkin diantara masbro sudah ada yang pernah baca. Tapi tidak ada salahnya kembali saya share. Sebagai tolak ukur,,, ternyata masih ada pemimpin yang tidak gila jabatan. Berikut bro,,, catatanya….

 

Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?

 

Malam itu saya sudah berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Siap berangkat ke Amsterdam, Belanda. Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lagi paspor untuk melihat dokumen imigrasi. Semua beres. Saya pun siap-siap, sebentar lagi boarding. Istri saya sudah berada di Eropa tiga hari lebih dulu. Mendampingi anak sulung saya yang menjabat Dirut Jawa Pos, yang menerima penghargaan dari persatuan koran sedunia. Jawa Pos terpilih sebagai koran terbaik dunia tahun ini.

Saya pun kirim BBM kepada direksi untuk memberi tahu saat boarding sudah dekat. “Kapan pulangnya, Pak Dis?” tanya seorang direktur. “Tanggal 21 Oktober. Setelah kabinet baru diumumkan,” jawab saya. “Ooh, ini kepergian untuk ngelesi ya,” guraunya.

Saya memang tidak kepengin jadi menteri. Saya sudah telanjur jatuh cinta dengan PLN. Instansi yang dulu saya benci mati-matian ini telah membuat saya sangat bergairah dan serasa muda kembali. Bukan karena tergiur fasilitas dan gaji besar, tapi saya merasa telah menemukan model transformasi korporasi yang sangat besar yang biasanya sulit berubah. Saya juga tidak habis pikir mengapa PLN bisa berubah menjadi begitu dinamis. Beberapa faktor terlintas di pikiran saya.

Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang berotak encer. Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan. Sejak dari konsep, roadmap, sampai aplikasi teknisnya.

Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa berpikir logis.

Ketiga, gelombang internal yang menghendaki PLN menjadi perusahaan yang baik/maju ternyata sangat-sangat besar.

Keempat, intervensi dari luar yang biasanya merusak sangat minimal.

Kelima, iklim yang diciptakan Men Bapak Mustafa Abubakar sangat kondusif yang memungkinkan lahirnya inisiatif-inisiatif besar dari korporasi.

Lima faktor itu yang membuat saya hidup bahagia di PLN. Dengan modal lima hal itu pula, komitmen apa pun untuk menyelesaikan persoalan rakyat di bidang kelistrikan bisa cepat terwujud. Itulah sebabnya saya berani membayangkan, akhir 2012 adalah saat yang sangat mengesankan bagi PLN.

Pada hari itu nanti, energy mix sudah sangat baik. Berarti penghematan bisa mencapai angka triliunan rupiah. Jumlah mati lampu sudah mencapai standar internasional untuk negara sekelas Indonesia. Penggunaan meter prabayar sudah menjadi yang terbesar di dunia. Rasio elektrifikasi sudah di atas 75 persen. Provinsi-provinsi yang selama ini dihina dengan cap “ayam mati di lumbung” sudah terbebas dari ejekan itu. Sumsel, Riau, Kalsel, Kaltim, dan Kalteng yang selama ini menjadi simbol “ayam mati di lumbung energi” sudah surplus listrik.

Pada akhir 2012 itu nanti, tepat tiga tahun saya di PLN, saatnya saya mengambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri: berhenti! Saya ingin kembali menjadi orang bebas. Tidak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan orang bebas. Apalagi, orang bebas yang sehat, punya istri, punya anak, punya cucu, dan he he punya uang! Bisa ke mana pun mau pergi dan bisa mendapatkan apa pun yang dimau. Saya tahu masa jabatan saya memang lima tahun, tapi saya sudah sepakat dengan istri untuk hanya tiga tahun.

Niat seperti itu sudah sering saya kemukakan kepada sesama direksi. Terutama di bulan-bulan pertama dulu. Tapi, mereka melarang saya menyampaikannya secara terbuka. Khawatir menganggu kestabilan internal PLN. Mengapa? “Takut sejak jauh-jauh hari sudah banyak yang memasang strategi mengincar kursi Dirut,” ujarnya.

“Bukan strategi memajukan PLN,” tambahnya. “Lebih baik selama tiga tahun itu kita menyusun perkuatan internal agar sewaktu-waktu Pak Dis meninggalkan PLN kultur internal kita sudah baik,” katanya pula.

Saya setuju untuk menyimpan “dendam tiga tahun” itu. Organisasi sebesar PLN memang tidak boleh sering guncang. Terlalu besar muatannya. Kalau kendaraannya terguncang-guncang terus, bisa mabuk penumpangnya. Kalau 50.000 orang karyawan PLN mabuk semua, muntahannya akan menenggelamkan perusahaan.

Sepeninggal saya ini pun tidak boleh ada guncangan. Saya akan mengusulkan ke menteri BUMN yang baru untuk memilih salah seorang di antara direksi yang ada sekarang, yang terbukti sangat mampu memajukan PLN. Kalau di antara direksi sendiri ada yang ternyata berebut, saya akan usulkan untuk diberhentikan sekalian. Tapi, tidak mungkin direksi yang ada sekarang punya sifat seperti itu.

Saya sudah menyelaminya selama hampir dua tahun. Saya merasakan tim direksi PLN ini benar-benar satu hati, satu rasa, dan satu tekad. Ini sudah dibuktikan, ketika PLN menerima tekanan intervensi yang luar biasa besar, direksi sangat kompak menepis.

Kekompakan seperti itu yang juga membuat saya semakin bergairah untuk bekerja keras mempercepat transformasi PLN. Saya menyadari waktu tidak banyak. Keinginan untuk bisa segera menjadi orang bebas tidak boleh menyisakan agenda yang menyulitkan masa depan PLN. Itulah sebabnya moto PLN yang lama yang berbunyi “listrik untuk kehidupan yang lebih baik” kita ganti untuk sementara dengan moto yang lebih sederhana tapi nyata: Kerja! Kerja! Kerja!

Tanggal 27 Oktober 2011 nanti, bertepatan dengan Hari Listrik Nasional, moto baru itu akan digemakan ke seluruh Indonesia. Kerja! Kerja! Kerja! Sebenarnya ada satu kalimat yang saya usulkan sebelum kata kerja! kerja! kerja! itu. Lengkapnya begini: Jauhi politik! Kerja! Kerja! Kerja!

Tapi, teman-teman PLN menyarankan kalimat awal itu dihapus saja agar tidak menimbulkan komplikasi politik. Tentu saya setuju. Saya tahu, berniat menjauhi politik pun bisa kena masalah politik!

Sudah lama saya ingin naik business class yang baru dari Garuda Indonesia. Kesempatan ke Eropa ini saya pergunakan dengan baik. Toh bayar dengan uang pribadi. Saya dengar business class-nya Garuda sekarang tidak kalah mewah dengan penerbangan terkenal lainnya. Saya ingin merasakannya. Saya ingin membandingkannya. Kebetulan saat umrah Lebaran lalu saya sempat naik business class pesawat terbaru Emirat A380 yang ada barnya itu.

Sejak awal, sejak sebelum menjabat CEO PLN, saya memang mengagumi transformasi yang dilakukan Garuda. Saya dengar di Singapura pun kini Garuda sudah mendarat di terminal tiga. Lambang presitise dan keunggulan. Tidak lagi mendarat di terminal 1 yang sering menimbulkan ejekan “ini kan pesawat Indonesia, taruh saja di terminal 1 yang paling lama itu!”

Beberapa menit lagi saya akan merasakan kali pertama business class jarak jauh Garuda yang baru. Saya seperti tidak sabar menunggu boarding. Di saat seperti itulah tiba-tiba; “Ini ada tilpon untuk Pak Dahlan,” ujar keluarga saya yang akan sama-sama ke Eropa sambil menyodorkan HP-nya.

Telepon pun saya terima. Saya tercenung. “Tidak boleh berangkat! Ini perintah Presiden!” bunyi telepon itu. “Wah, saya kena cekal,” kata saya dalam hati. Mendapat perintah untuk membatalkan terbang ke Eropa, pikiran saya langsung terbang ke mana-mana.

Ke Wamena yang listriknya harus cukup dan 100 persen harus dari tenaga air tahun depan. Ke Buol yang baru saya putuskan segera bangun PLTGB (pembangkit listrik tenaga gas batu bara) agar dalam delapan bulan sudah menghasilkan listrik. Ke PLTU Amurang yang tidak selesai-selesai.

Ke Flores yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini. Saya tahu, teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak menimbulkan kutukan.

Pikiran saya juga terbang ke Lombok yang kelistrikannya selalu mengganggu pikiran saya. Sampai-sampai mendadak saya putuskan harus ada mini LNG di Lombok dalam waktu cepat. Ini saya simpulkan setelah kembali meninjau Lombok malam-malam minggu lalu. Saya tidak yakin, PLTU di sana bisa menyelesaikan masalah Lombok dengan tuntas.

Pikiran saya terbang ke Bali, membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di dunia. Ke Banten Selatan dan Jabar Selatan yang tegangan listriknya begitu rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.

Meski masih tercenung di ruang tunggu Garuda, pikiran saya juga terbang ke Lampung yang enam bulan lagi akan surplus listrik dengan selesainya PLTU baru dan geotermal Ulubellu.

Juga teringat GM Lampung Agung Suteja yang saya beri beban berat untuk menyelesaikan nasib 10.000 petambak udang di Dipasena dalam waktu tiga bulan. Padahal, dia baru dapat beban berat menyelesaikan 80.000 warga yang harus secara masal pindah mendadak dari listrik koperasi ke listrik PLN.

Pikiran saya juga terbang ke Manna di selatan Bengkulu. Saya kepikir apakah saya masih boleh datang ke Manna tanggal 30 Desember, seperti yang saya janjikan untuk bersama-sama rakyat setempat syukuran terselesaikannya masalah listrik yang rumit di Manna. Saya terpikir Rengat, Tembilahan, Selatpanjang, Siak, dan Bagan Siapi-api yang saya programkan tahun depan harus beres.

Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ: proyek Pangkalan Susu yang ruwet, izin Asahan 3 yang belum keluar, PLTP Sarulla yang bertele-tele, dan Bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.

Pikiran saya terus melayang ke Jambi yang akan menjadi percontohan penyelesaian problem terpelik sistem kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan menjadi model untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi beberapa bulan lagi. Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?

Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun minihidro. Lalu, bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100 persen tenaga matahari. Ingat Halmahera, Sumba, Timika.

Tentu saya juga ingat Pacitan. PLTU di Pacitan belum menemukan jalan keluar. Yakni, bagaimana mengatasi gelombang dahsyat yang mencapai 8 meter di situ. Ini sangat menyulitkan dalam membangun breakwater untuk melindungi pelabuhan batu bara.

Dan Rabu 23 Oktober lusa saya janji ke Nias. Dan bermalam di situ. Empat bupati di Kepulauan Nias sudah bertekad mendiskusikan bersama bagaimana membangun Nias dengan terlebih dahulu mengatasi masalah listriknya.

Yang paling membuat saya gundah adalah ini: saya melihat dan merasakan betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu per satu wajah teman-teman PLN di seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.

Dengan pikiran yang gundah seperti itulah, saya berdiri. Mengurus pembatalan terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan stempel imigrasi, dan meninggalkan bandara.

Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah telanjur jatuh cinta setengah mati kepada orang yang dulu saya benci: PLN. Tapi, belum lagi saya bisa merayakan bulan madunya, saya harus meninggalkannya. Inikah yang disebut kasih tak sampai? (*)

Sumber, DahlanIs.com

Comments»

1. Prabowo - 01/08/2012

PLN sebelum dan sesudah dahlan iskan jadi Dirut sama saja, byar pet…ngomongnya saja tidak akan ada mati listrik, padahal kenyataannya sebaliknya. Pandai membual…Setiap pemimpin akan ditanyai apa yang dipimpinnya(Kullukum Roo’in Wa Kullukum Mas’ulun ‘An Ro’iyatih). Tunggu saja dipengadilan tertinggi.

2. Keenan - 02/08/2012

Setiap org pnya kelebihan&Kekurangan..Sangat penting utk menghargai kerja org lain..Banyak ato sedikit pasti ada prestasi yang sudah ditorehkan..tp mungkin juga ada kekeliruan yg tak sengaja dbuat..itulah keterbatasan manusia..Org yang lebih mngerti pengadilan tertinggi sepantasnya tidak akan mencerca dan menghujat org lain.

3. Palui - 04/08/2012

Dulu di Kalimantan Selatan sebelum Pak DI hampir tiap hari listrik mati. Kantor dan bisnis dijatah hanya sampai pukul 6 sore mendapat listrik PLN, di luar itu harus pakai genset sendiri. Setengah tahun setelah Dahlan Iskan jadi Dirut PLN, listrik tidak pernah mati lagi.

4. MWDS - 01/08/2012

menteri juga manusia…….!!!

tapi apakah punya hati ya………???

*coba perhatikan rakyat

5. Nichoz Ahmad - 01/08/2012

@prabowo,,, perasaan pak dahlan gak pernah ngomong gtu bro,,, yang saya denger si,, gak akan ada lagi pemadaman bergilir ,,, mati lampu buka berarti pemadaman bergilir lho, coz, listrik sekarang sudah cukup, bahkan bisa di bilang lebih, bsa jdi mati listrik karena jaringan tertimpa pohon atau apa.. maaf kalau emg ane kurang informasi,,,
@mwds,,, yoi bro,,, ane jga pengin baca buku Dahlan Juga Manusia,, tpi belum sempet beli,,,

6. Prabowo - 02/08/2012

Mau istilahnya byar pet apa bergilir ya kalau mati listrik ya sama.ga bisa dipakai listriknya. Saya tinggal di pinggiran jakarta(deket pemerintahan), memang (mungkin) gak ada pemadaman bergilir, tapi soal mati listrik sudah hampir tiap hari kejadian. Dan ga tanggung-2 durasinya. yg paling ga enak kalau matinya dari sore sampai jam 12 malem baru nyala, atau mulai mati jam 10 malem sampai jam 3 pagi. Bayangin saja gimana rasanya semalaman ngipasin anak. Kirain dengan masuknya dahlan iskan yang terkenal hebat(sejak jadi pengusaha media), bisa merubah keadaan. Maaf ya, jadi curhat soal kualitas pelayanan di negeri ini yg makin kacau. Menurut saya gak ada bedanya. Cuma tulisan-2an kehebatannya aja yang bergentayangan via milis atau blogger. Kehebatan semu..(atau politik pencitraan)

7. Nichoz Ahmad - 02/08/2012

ya,, saya paham pak,,, kalau saya berada di posisi bpak mungkin sama dongkolnya,,,, sebaiknya bpak mengirim pengaduan langsung ke PLN pusat, Emailnya kyanya ada di web resminya.

Sehebat-hebatnya orang kalau mengurusi BUMN yang sedemikian banyak pasti ada saja kekurangannya, Tapi saya yakin pak Dahlan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam menjalankan tugas ini dalam artian Bukan untuk PENCITRAAN. Coz beliau ingin memanfaatkan umur tambahan yang di berikanNya,,, setelah lolos dari maut ketika operasi transplantasi hati 5 tahun lalu, Sebuah keajaiban dariNya tentunya, karena menurut dokter, orang yang transplantasi hati biasanya hanya akan bisa bertahan hidup 5 tahun saja.

8. Prabowo - 10/08/2012

Iya mas, Saya sebenernya dongkolnya sama PLN nya, bukan ke pak Dahlan Iskan. Cuma kecewa saja ternyata setelah diganti orang/pemimpin sekelas beliau saja kondisi PLN ditempat saya masih sama saja. Berbicara soal maut, menurut saya maut itu tidak pernah salah sasaran atau bisa lolos. Mungkin lebih tepatnya dikasih peringatan agar dijadikan pelajaran. Saya sendiri juga barusaja mengalami hal serupa, “lolos” dari serangan jantung koroner(mirip kayak anggota DPR ajie massaid). Seperti diberi hidup kedua oleh Alloh. Dan itu juga berusaha saya manfaatkan sebaik-baiknya.Mungkin dengan sentilan saya ini,bisa dibaca oleh beliau untuk bisa lebih dalam lagi menjangkau ke masyarakat. Kadang lebih bagus hujatan/kritikan daripada kata-2 manis yang menghanyutkan untuk membuat orang itu tersadar.

9. Nichoz Ahmad - 10/08/2012

betul pak,,, saya juga sependapat dengan bapak,,, memang sekali-kali kritik sangat perlu agar pak dahlan tidak terlena, tidak cepat puas dengan pencapaian yang sudah diraih,, namun karena nama beliau sedang melambung, kadang kritik yang kita sampaikan justru mendapat perlawanan dari pendukung beliau,, padahal sbetulnya maksud dan tujun kita mengkritik baik,,
selain kritik yang membangun,, apresiasi juga penting,, agar beliau juga tetap semangat dalam berkarya membangun negri ini.Saat masih banyak kekurangan kita kritik,, saat memperoleh keberhasilan kita kasih apresiasi,,,

ow iya,,, saya doakan semoga bpak selalu di beri kesehatan,,,